Posted by: hmjsipiluph | May 29, 2007

“Kompetisi Jembatan Baja Indonesia 2005”

 

Kompetisi Jembatan Baja Indonesia 2005 ini merupakan kompetisi jembatan baja yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia tepatnya di Balairung Universitas Indonesia, Kampus Universitas Indonesia-Depok. Kompetisi yang bersifat nasional ini diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Jakarta dan ditujukan bagi mahasiswa/i Jurusan Teknik Sipil ini terbuka bagi lebih dari 100 Universitas dan Politeknik di seluruh Indonesia yang telah diundang oleh pihak panitia. Merupakan suatu kebanggaan dan kesempatan yang luar biasa bagi kami mendapatkan kepercayaan dari pihak jurusan untuk mewakili Jurusan Teknik Sipil Universitas Pelita Harapan pada ajang tersebut.

 Kami terdiri dari Rany Anita (2002) selaku ketua tim, Jerry Atmaja (2003), Hendrik Wijaya (2004), dan Joey Tirtawijaya (2004). Selama berlangsungnya kompetisi ini, kami dibimbing oleh Ir. Wiryanto Dewobroto, MT. Kami berlima memberi nama kami “Shinning Eagle” yang mengandung makna semangat kami yang tidak pernah redup dan juga mencerminkan lambang UPH.Secara umum, kompetisi ini bersifat nasional dengan tema “Jembatan Kuat, Ringan, Ekonomis, Estetis dan Mudah dikerjakan”, sebagai Simbol Inspirasi Kemajuan Teknologi Jembatan Baja Indonesia. Kompetisi ini terdiri dari 2 tahap yang mana pada tahap pertama kami diminta untuk membuat proposal jembatan baja dengan bentang 4,5 meter dan lebar 0,9 meter secara detail mulai dari laporan perencanaan berupa konsep desain, dasar teori, penyelesaian masalah; gambar detail; perencanaan fabrikasi; metode pelaksanaan; dan konsep estetika.Proposal yang telah kami buat tersebut dikirim untuk diseleksi bersama dengan proposal-proposal dari universitas-universitas dan politeknik-politeknik lainnya yang telah diundang dari seluruh Indonesia dan akan dipilih 12 tim untuk melanjutkan kompetisi ini ke tahap kedua untuk membuat jembatan sebenarnya dan akan dinilai lebih lanjut dengan kriteria waktu perakitan jembatan tercepat, berat jembatan teringan, kekokohan jembatan (lendutan terkecil pada saant dibebani beban 450 kg), estetika jembatan, dan unjuk kerja tim.Setelah mengalami berbagai perbedaan pendapat hingga akhirnya didapat suatu kesamaan, singkat kata pada tgl 29 Oktober 2005, kami dinyatakan lolos seleksi tahap pertama pada peringkat kedua dibawah tim tuan rumah Politeknik Negeri Jakarta. Namun pengumuman kelolosan ke tahap kedua (final) tersebut sempat membuat kami ragu untuk melanjutkan setengah perjalanan kami lagi karena terjadi pengunduran waktu kompetisi yang semula tgl 18-19 November 2005 diunudur menjadi tgl 4-6 Desember 2005, yang pada saat itu bertepatan dengan minggu kedua Ujian Akhir Semester (UAS). Setelah kami berunding satu sama lain, akhirnya kami memutuskan untuk tetap melajutkan kompetisi ini dengan catatan kami akan diberikan ujian susulan. Waktu yang tersisa sekitar 5 minggu tersebut, kami gunakan seefektif mungkin. Minggu pertama dari waktu yang tersisa, kami gunakan untuk sedikit merevisi model jembatan yang telah kami buat sebelumnya karena ada permintaan dari pihak panitia untuk merevisi bentuk jembatan kami menjadi bentuk truss (rangka batang segitiga).Minggu kedua, kami gunakan menyediakan rangka-rangka jembatan oleh karena itu pembuatan rangka utama dan rangka-rangka lainnya, kami menggunakan jasa bengkel las. Setelah rangka-rangka jembatan selesai dibuat di bengkel las, kami harus memikirkan langkah konkret bagaimana caranya merakit rangka jembatan. Hal yang tersulit adalah pada saat kami memikirkan bagaimana menyeberangkan sebuah rangka utama sepanjang 4,5 meter, tinggi 0,9 meter dan seberat + 70 kg diatas sebuah simulasi sungai 4 meter.Perlu diketahui bahwa, perakitan jembatan pada saat kompetisi harus dilakukan sendiri oleh setiap tim pesrta diatas sebuah simulasi sungai selebar 4 meter dan tidak diizinkan untuk menyentuh sungai.Oleh karena itu waktu yang tersisa setelah proses di bengkel las, yaitu pada minggu ketiga kami gunakan untuk latihan merakit rangka-rangka jembatan tersebut. Perakitan yang kami lakukan dengan menggunakan baut untuk menghubungkan kedua rangka utama yang telah dilas sebelumnya. Seiring dengan latihan kami tersebut, kami masih harus menyediakan peralatan-peralatan dan perlengkapan-perlengkapan yang akan kami gunakan nantinya seperti baut-baut, kunci pas, seragam keja, helm kerja, tas kerja, dll.

 Pada minggu keempat, kami membagi pikiran dan waktu kami antara kompetisi dan UAS. Pada saat itu kami merasa tidak siap untuk mengikuti (UAS), karena selain harus membagi pikiran dan waktu kami, kami juga kehilangan konsentrasi kami selama kuliah-kuliah pada minggu-minggu sebelum Ujian Akhir Semester (UAS). Alhasil nilai-nilai UAS kami tidak maksimal dan IPS dan IPK kami turun.Pada saat kami menjalani UAS, panitia kompetisi kembali memberikan pengumuman mengenai pengunduran waktu pelaksanaan kompetisi menjadi tgl 19-23 Desember 2005. Pengumuman ini sempat membuat kami kecewa karena kami telah berusaha keras agar kami dapat mengikuti kompetisi ini pada saat UAS, apalagi waktu yang ditentukan oleh panitia bertepatan dengan jadwal libur semester dan natal. Namun karena tekad kami yang sudah bulat dan persiapan yang telah kami lakukanlah yang akhirnya membawa kami pada final kompetisi ini.Alhasil, karena pengunduran ini, kami juga menggunakan sebagian waktu liburan kami untuk latihan dan mempersiapkan segala sesuatu yang akan diperlukan pada saat kompetisi nanti, mulai dari membeli pakaian seragam bermotif burung elang yang sesuai dengan nama tim kami hingga pernak-pernik seperti sticker logo UPH, dll.Tepat tgl 19 Desember 2005, pukul. 09.00, kami memulai hari-hari bersejarah bagi kami. Kami berkumpul di laboratorium Teknik Sipil untuk mempersiapkan keberangkatan kami. Sebelum berangkat, kami mempersiapkan alat-alat dan perlengkapan yang kami bawa nanti. Sekitar pk. 14.00, kami berangkat menggunakan 2 buah kendaraan. Sebuah kendaraan truk colt diesel untuk mengangkat jemabatan dan peralatan beserta perlengkapan lainnya dan sebuah kendaraan berisikan kami.Sekitar pk.16.00, kami tiba di Balairung UI dan diterima oleh pihak panitia kompetisi. Tidak lama setelah itu kami segera menurunkan barang-barang kompetisi seperti rangka jembatan, blok beton untuk pondasi, perlatan dan perlengkapan lainnya.Setelah selesai menurunkan barang-barang kami, kami meninggalkan Balairung UI menuju Wisma Makara UI untuk bermalam. Selama kompetisi ini, pihak panitia menyediakan akomodasi untuk tempat bermalam selama 4 malam. Kami merasa cukup nyaman di Wisma Makara UI ini, walupun bernamakan wisma, menurut kami wisma tersebut dikategorikan sebagai hotel. Masing-masing tim yang lolos ke babak final disediakan 2 buah kamar full AC.Tidak banyak yang kami lakukan pada hari pertama kami di UI, karena jadwal kegiatan pada hari pertama hanya penerimaan finalis saja. Kami menghabiskan sisa waktu kami beristirahat di wisma.Keesokan pagi harinya kami berangkat kembali menuju balairung untuk mengikuti acara. Kami merasa kagum dan beruntung mengikuti kompetisi ini, karena kami dapat bertemu dan berkenalan dengan teman-taman dari 11 tim lainnya yang berasal dari berbagai kota di Indonesia seperti Pontianak, Surabaya, Surakarta, Medan, dll. Acara pada hari kedua ini masih dalam tahap persiapan. Pada hari kedua ini, kedua belas tim diberikan kesempatan untuk berlaith merakit jembatan masing-masing, stelah itu dilakukan briefing mengenai peraturan yang kurang jelas yang dilanjutkan dengan pengundian nomor peserta dan penimbangan elemen jembatan.Tim yang mendapatkan nomor peserta 1-6 akan berkompetisi keesokan harinya, sedangkan tim yang mendapatkan nomor 7-12 akan berkimpetisi sehari setelah 6 tim liannya telah berkompetisi. Kami cukup beruntung karena mendapat nomor 7 dan berkesempatan untuk memperhatikan cara kerja tim lain untuk dijadikan pengalaman.

Hasil Karya dan Cara Kerja Beberapa Tim Lainnya

Hari ketiga di UI kami jalani dengan santai, kami hanya melihat-lihat cara kerja tim lain. Setelah keenam tim selesai merakit jembatannya dan diberi penilaian oleh juri, jembatan yang telah merka rakit diberi beban secara bertahap setiap 45 kg hingga 450 kg. Pada saat melihat proses pembebanan jembata kami menyadari bahwa kami akan sangat kesulitan pada saat pengangkatan dam pemberian beban pada jembatan nantinya, mengingat tnggi jembatan kami yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan jembatan-jembatan yang dikompetisikan lainnya.Karena hal tersebut diatas kami berencana untuk menggunakan alat bantu pada saat pengangkatan beban nanti. Setelah kami berdiskusi dengan singkat, kami memutuskan untuk menggunakan alat bantu berupa pipa besi dan rantai, oleh karena itu seusai dari balairung, kami segera mencari toko besi untuk membeli pipa besi dan rantai. Setelah membeli alat bantu, kami segera kembali ke wisma untuk beristirahat  dan mempersiapkan diri karena keesokan harinya adalah saatnya bagi kami untuk merakit jembatan.Esok harinya, tgl 22 Januari 2006 kami bangun dari tidur kami dan berusaha untuk menenangkan diri agar kami tidak gugup pada saat perakit jembatan nanti. Setelah makan pagi kami berangkat menuju balairung dan segera bersiap-siap. Tak lama setelah kami bersiap-siap, kami diminta untuk memindahkan rangka-rangka jembatan dan barang-barang lainnya dari “pit stop” ke arena perakitan.Waktu yang disediakan oleh panitia untuk merakit jembatan adalah selama 2,5 jam. Segera setelah aba-aba tanda dimulainya waktu perakitan, kami bekerja keras untuk merakit jembatan. Tak banyak kata yang dapat menggambarkan suasana hati kami saat itu. Rasa gugup, tegang, takut, senang, bangga, dan lainnnya bercampur menjadi satu.Kami mulai langkah awal kami dengan meluncurkan kedua rangka utama jembatan kami, yang kemudian kami dirikan diatas pondasi, setelah itu kami memasang 2 buah balok melintang untuk meletakkan lantai kerja untuk mempermudah cara kerja kami. Satu per satu sambungan rangka kami baut dengan lancar. Kami memang sudah benar-benar siap karena latihan-latihan yang telah kami lakukan sebelumnya. Setelah semua rangka terpasang dengan sempurna, kami meluncurkan lantai kendaraan diatasnya, segera setelah lantai kendaraan selesai terpasang, kami dinyatakan telah selesai merakit jembatan.

Saat Perakitan Jembatan

 

Diluar dugaan kami dapat merakit jembatan dalam waktu yang sangat singkat yaitu selama 47 menit, ini merupakan waktu tercepat kami selama beberapa kali kami merakit jembatan. Satu hal yang membuat kami bannga adalah waktu perakitan kami merupakan waktu tercepat kedua bila dibandingkan dengan 11 tim lainnya.Setelah semua jembatan selesai dirakit, seperti hari sebelumnya, para juri mulai memerikasa dan menilai jembatan-jembatan yang telah dirakit. Tak lama setelah itu, kami harus memberikan beban sebesar 450 kg diatas jembatan. Sungguh melelahkan ketika kami harus mengangkat dan meletakkan 10 buah beban blok beton masing-masing seberat 45 kg ke atas jembatan kami, padahal tenaga kami telah terkuras pada saat perakitan jembatan, untungnya saja kami menggunakan alat bantu yang baru kami beli sehari sebelumnya. Setelah dibebani, lendutan diperikasa oleh panitia, dan hasil lendutan jembatan kami merupakan lendutan terkecil diantara jembatan-jembatan lainnya yaitu sebesar 0,47 mm jauh lebih kecil dibanding tim lainnya hingga lebih dari 5 mm.

Saat Pemberian Beban Dengan Menggunakan Alat Bantu

Kami harus menunggu cukup lama sekitar 3 – 4 jam untuk mendengarkan pengumuman pemenang. Waktu yang ada tersebut, kami gunakan untu beramah tamah dengan peserta lain hingga akhirnya kami benar-benar merasa lelah. Lantai kotor-pun kami jadikan alas untuk kami duduk bahkan sebagian dari kami tidak segan untuk tidur diatas lantai yang kotor ber-bantal-kan helm kerja.

Saat Menunggu Pengumuman, Bersama Teman-teman Dari Pontianak

Setelah menunngu dengan penuh rasa jenuh, akhirnya juri pun datang dan acara dimulai kembali dengan adanya penampilan hiburan dari pihak panitia. Akhirnya saat-saat yang kami tunggu pun tiba. Ketua juri mengummumkan juara-juara kompetisi ini. Dimulai dari Juara III yang jatuh pada Universitas Kristen Maranatha, Juara II yang jatuh pada Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), hingga akhirnya pengumuman Juara I. Begitu besar luapan kegembiraan kami keika mendengar Universitas Pelita Harapan sebagai Juara I Kompetisi Jembatan Baja Indonesia 2005.Usaha kami selama  + 3 bulan terakhir telah membuahkan hasil. Sebagai hadiahnya Universitas Pelita Harapan mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 10.000.000,- sebuah piala tetap, dan sebuah piala bergilir. Jembatan yang telah kami buat tersebut, sempat kami pamerkan untuk berbagi cerita dan pengalaman beberapa waktu lalu dari tgl 18-25 Januari 2005 di lobi gedung D.Atas jerih payah juga pengorbanan waktu dan tenaga kami, sebagai bentuk apresiasi terhadap kami, kami masing-masing diberikan Rp.750.000,- yang merupakan sebagian kecil dari hadiah yang telah diterima oleh Universitas Pelita Harapan. Kecil mungkin jika dilihat dari segi nominal, namun ada hal berharga yang dapat kami banggakan dari cerita ini.Kami telah mempersiapkan kompetisi ini dan mengikutinya selama sekitar 3 bulan mulai dari saat-saat Ujian Tengah Semester hingga 2 hari sebelum perayaan natal tiba. Ada banyak pengorbanan mulai dari pikiran, tenaga, dan juga waktu kami hingga kami tidak dapat berkonsentrasi penuh terutama pada saat Ujian Akhir Semester yang akhirnya berdampak pada turnnya nilai dan Indeks Prestasi (I P) kami.Dibalik itu semua kami mendapat pengalaman luar biasa, dan semuanya itu berakhir dengan menjadi yang terbaik sebagai “JUARA I”

Usai Menerima Hadiah dan Piala Penghargaan

Kami (Tim Shinning Eagle) beserta beban 450 kg di Atas Jembatan


Responses

  1. Jurusan Teknik Sipil UPH yang sekarang bukanlah sebuah Jurusan yang minoritas lagi. Terbukti bahwa Jurusan Teknik Sipil UPH banyak memenangkan berbagai kejuaraan, seperti salah satunya kejuaraan Jembatan Baja ini, selain itu Jurusan Sipil UPH juga sering mengadakan acara tahunan yang cukup meriah, yaitu Spagheti Bridge Competition. Didukung Dosen pengajar, dan HMJ yang berkualitas, serta mahasiswa yang berdedikasi tinggi, saya yakin Jurusan Teknik Sipil UPH akan menjadi Jurusan yang luar biasa untuk dua-tiga tahun ke depan. So, Teman-Teman, banggalah akan Jurusanmu! For Bem-Bem n the others, keep up the good work!

  2. Huahuhauhauhauhauhau…

    Bravo HMJ Sipil UPH….

    Saya gembira menyaksikan betapa perkembangan HMJ Sipil UPH yang semakin luar biasa. HMJ Sipil adalah HMJ yang paling disegani di jagad UPH (dulu) dan saya yakin sampai sekarang pun akan tetap disegani sampai sepanjang UPH berdiri.

    Selamat buat pengurus HMJ Sipil, btw kok tidak ditampilkan di sini yha? syukur syukur ada halaman untuk anggota dan pengurus HMJ sipil dari masa ke masa, yang dapat diupdate setiap saat sehingga kami kami yang sudah uzur ini senantiasa dapet bertemu dan berinteraksi dengan kaum muda yang dahsyat seperti kalian semua

    Semarang, 30 Juni 2008

    Saesario Indrawan
    02119990013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: